“Tell me and I forget. Teach me and I remember. Involve me and I Learn.”(katakan kepadaku – instruksi satu arah dan saya lupa. Ajari saya – instruksi dengan menerangkan dan saya ingat. Libatkan saya – instruksi dengan melibatkan anak dan saya belajar) – Benjamin Franklin –
Education is the kindling of a flame, not the filling of vessel. (pendidikan adalah menyalakan obor, bukan untuk mengisi bejana) – Socrates –
9 Pilar Karakter yang selayaknya diajarkan kepada anak-anak (disusun oleh Indonesian Heritage Foundation) :
1. Cinta Tuhan dan Kebenaran ( Love Allah, Trust, reverence, loyalty)
2.
To educate a person in mind and not in morals is to educate a manace to society (mendidik seseorang hanya dalam aspek kecerdasan otak dan bukan aspek moral adalah mendidik marabahaya kepada masyarakat). – Theodore Roosevelt –
Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian (responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness)
3. Amanah (Trustworthiness, reliability, honesty)
4. Hormat dan santun (respect, courtesy, obedience)
5. Kasih saying, kepudilian, dan kerjasama (love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation, cooperation)
6. Percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah (confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage, determintion, and enthusiasm)
7. Keadilan dan kepimimpinan(justice, fairness, mercy, leadhership)
8. Baik dan rendah hati (kindness, friendliness, humility, modesty)
9. Toleransi dan cinta damai (tolerance, flexibility, peacefulness, unity)
Seperti halnya perkembangan motorik, mental, dan social anak yang berjalan secara bertahap dan memerlukan pendekatan yang patut sesuai dengan tahapan umur anak, pendidikan karakter yang diberikan kepada anak juga harus memperhatikan tahap-tahap perkembangan moral anak.
Seseorang yang menghindaari perrilaku buruk karena takut akan hukuman adalh tingkatan mmoral yang paling rendah. – Lawrence Kohlbeerg—
Tahapan-tahapan (fase) perkembangan moral adalah :
Fase 1 : Berfikir Egosentris (Self-Oriented Morality)
Fase ini adalah fase dimana anak berfikir egois. Ffase ini bermula pada usia 1 sampai 5 tahun, yang disebut masa Pre-sonventional morality, yaitu tahapan “reward and Punishment” (hadiah dan hukuman). Pada masa ini anak mau berbuat baik kalau ada insentif (hadiah atau pujian), dan takut mendapatkan hukuman kalau bersalah.
Anak pada usia ini adalah egois, sehingga sulit untuk berbagi mainan dengan kawan-kawannya. Oleh Karena itu, sekolah yang baik harus menyiapkan lebih dari satu mainan yang jenisnya sama, agar tidak ada konflik antar kawannya di sekolah. Pada usia 2-3 tahun seorang anak yang cenderung egois, maka kecenderungan orang tua atau guru sering melarang atau membentak anak. Menurut Erikson, anak yang terlalu banyak dilarang dan dimarahi tidak akan terbentuk rasa kemandiriannya, sehingga anak menjadi pemalu dan tidak percaya diri. Menghadapi anak ini adalah dengan memberi arahan yang lembut tetapi tegas, dan memberi alasan yang jelas mengapa sebuah perbuatan dilarang dilakukan.
Anak 2-3 tahun menurut Licktona sudah dapat diperkanalkan sopan santun, dan perbuatan baik dan buruk. Pada usia ini sangat sulit diatur, sehingga memerlukan kesabaran orang tua. Anak pada fase ini selain egois ia senang melanggar aturan, memamerkan diri, dan senang memaksakan keinginannya yang kadang-kadang dilakukannya secara manipulatif dan berbohong. Mereka mau berprilaku baik karena ingin mendapatkan hadiah/pujian dan menghindari hukuman. Dan mereka juga bisa menunjukan sikap kooperatif dan kasih sayang sejauh tidak konflik dengan kepentingannya.
Memberikan pendidikan karakter pada fase ini bisa dilakukan dengan memberikan insentif agar anak berprilaku baik (misalnya dengan pujian), memberikan arahan yang jelas tentang bagaimana perbuatan yang baik (misalnya, anak yang baik tidak akan memukul temannya), memberikan aturan/sanksi yang jelas (misalnya, anak yang berteriak tidak sopan tidak akan diberi kesempatan untuk menggambar di papan tulis). Cara ini akan effektif karena anak-anak fase egosentris ini akan menurut sejauh keepentingannya bisa dipenuhi.
Anak-anak fase ini juga mempunyai kapasitas untuk berempati, karenanya cukup efektif seseorang anak diajarkan untuk melihat dari persfektif orang lain (misalnya, “ibumu akan sedih kalau kamu berbohong”, atau “alangkah senangnya hati ibu guru kalau kamu mau membantu ibu uantuk tidak berteriak di dalam kelas”).
Namun adalah penting untuk diingatkan bahwa tahapan moral yang masih bersifat egosentris ini adalah suatu hal yang wajar untuk anak-anak pada usia tahapan ini. Para pendidik hendaknya mengerti, bahwa anak-anak pada fase ini memang agak sulit ditangani, tetapi ini tidak akan berlanjut lama.
Fase 2 : Patuh Tanpa Syarat (Authority-oriented morality)
Menurut Brofenbrenner fase ini disebut authority-oriented morality (Moralitas Berdasarkan Figur Otoritas), yaitu anak percaya sekali kepada definisi baik dan buruk menurut figure otoritas, seperti orang tua atau guru. Sedangkan Kohlberg mangatakan bahwa fase ini adalah disebut fase “balas membalas” (exchange stage), dimana anak sudah mengerti akan kepentingan orang lain, tetapi masih dalam konteks “apa yang dapat saya peroleh”.
Menurut Thomas Licktona, fase ini berkisaar antara usia 4 ½ sampai 6 tahun, yang disebut fase patuh tanpa syarat. Anak-anak pada usia ini lebih mudah menurut dan diajak kerja sama, sehingga mereka mudah mengerjakan perintah orang tua atau guru. Alasan mereka ingin patuh karena agar terhindar dari masalah atau hukuman. Namun adalakanya anak-anak usia ini masih menunjukan perilaku anak-anak fase 1, yaitu sangat egosentris. Hal ini berarti anak-anak tersebut perkembangan moralnya tidak optimal.
Licktona mengatakan bahwa cirri khas perkembangan moral anak-anak fase ini adalah:
1. Dapat menerima pendangan orang lain, namun pandangan yang dianggap benar adalah orang dewasa.
2. Bisa menghormati otoritas orang tua (guru).
3. Menganggap bahwa orang dewasa adalah maha tahu dan mudah untuk melihat kawannya yang nakal atau melanggar aturan.
4. Sedang mengadukan kawan-kawannya yang nakal karena menganggap orang dewasa adalah satu-satunya panutan moral. Mereka menganggap bahwa yang melanggar peraturan harus dihukum, dan yang baik harus diberi hadiah.
5. Walaupun meraka berpikir bahwa mereka harus mematuhi aturan, apabila tidak ada orang dewasa/guru yang melihat, mereka cenderung melanggarnya. Mereka belum mengerti mengapa peraturan dibuat.
Pada fase ini pendidikan karakter dapat diberikan secara kontrol eksternal dimana guru dapat secara otoritatif mengajarkan moral baik atau buruk. Mereka percaya sekali bahwa apa yang dikatakan guru adalh benar adanya, maka penekanan pentingnya perilaku baik dan sopan akan sangat efektif dilakukan pada fase ini. Namun Licktona mengatakan bahwa pendekatan pendidikan karakter harus pula memberikan peluang bagi anak untuk mengerti alasan-alasan lain di luar alasan otoritas guru. (Misalnya, alasan mengapa mencuri tidak baik, anak fase ini pasti memberikan alasan karena takut dihukum, tetapi tidak bisa melihat pada tingkat yang lebih tinggi. Oleh karena itu perlu diberikan perspektif misalnya, bagaimana kalau kawan kamu mencuri mainan kesukaan kamu?).
Membangun karakter initiasif atau kreativitas adalah penting pada fase umur 3 sampa usia sebelum 5 tahun, yang disebut Erikson sabagai fase intiative versus guilt (inisiatif lawan rasa bersalah). Mereka harus diberi kesempatan untuk memilih dan menyalurkan kreativitasnya. Mereka dapat dilibatkan dalam diskusi untuk merencanakan kegiatannya. Selain itu mereka dapat diberikan tanggung jawab atas perilakunya, mainan, serta hewan peliharaanya. Tanggung jawan ini akan menumbuhkan initiatif. Apabila mereka merasa mampu untuk berinisiatif untuk melaklukan kegiatan sesuai dengan yang diinginkannya, maka akan menumbuhkan rasa kemampuan diri, kreativitas, dan berani mencetuskan ide-idenya, serta menjalankan ide-idenya. Semua ini adalah modal bagi pertumbuhan kematangan emosional selanjutnya. Sebaliknya, apabila anak banyak dilarang dan tidak diberikan kesempatan untuk mengambil inisiatif, maka mereka akan menjadi pribadi yang apatis tidak mampu mengambil inisiatif, tidak kreatif, dan rendah diri.
Pada usia berikutnya (6 ½ - 8 tahun), Thomas Lickona mengatakan bahwa ada perbedaan cirri perkembangan moral pada tahap sebelumnya (4 ½ - 6 tahun). Walaupun alasan berbuat baik masih dalam tahap egosentris, yaitu untuk kepentingan pribadi juga, selain alasan “saya harus mengontrol diri saya dan berbuat baik kepada mereka yang berbuat baik kepada saya” (exchange stage).
Ciri khas perkembangan moral anak-anak pada fase usia 6 ½ - 8 tahun menurut lickona adalah :
· Mereka merasa bahwa anak-anak juga mempunyai hak seperti orang dewasa, dan mempunyai keinginan untuk mandiri.
· Tidak lagi berpikir bahwa orang dewasa bisa memerintah anak-anak
· Mempunyai konsep keadilan yang kaku, yaitu balas-membalas. Hanya berbuat baik kepada orang yang berbuat baik padanya, begitu pula dalam membalas kejahatan.
· Mengerti perlunya berprilaku baik, agar disenangi orang lain.
· Sering membanding-bandingkan dan meminta perlakuan adil (“Dia mendapatkan kue yang lebih besar!”).
· Cenderung melanggar perintah kalau ia tidak dapat bernegosiasi terhadap apa yang ia pikir adil.
· Mempunyai potensi untuk bertindak kasar yang bermuara pada semakin turunnya otoritas orang dewasa dimata mereka, dan bisa bersikap tidak sensitive terhadap parasaan orang lain. Hal ini terjadi karena pada tahap ini mereka belum bisa melihat dari sisi orang lain atau masih egosentris.
· Kurang bisa melihat suatu tindakan yang salah kecuali kalau melihat hasilnya yang membahayakan, dan sering beranggapan bahwa berbohong atau curang adalah tidak apa-apa.
· Lebih banyak telibat perkelahian dan saling meledek antar kawannya karena mereka beranggapan karena mereka beranggapan bahwa segala sesuatu harus dibalas.
Mengajarkan moral kepada anak-anak pada tahap ini dapat memakai kecenderungan prinsip timbal-balik mereka (“kamu harus melakukan itu, kalau kamu melakukan ini untuk saya”). Dapat melakukan negosiasi untuk mendapatkan kesepakatan yang dianggap adil bagi mereka dan adil bagi anda. Namun orang tua/pendidik harus memberikan pengertian agar mereka dapat mencapai perkembangan moral tahap berikutnya. Karena kalau tidak, anak hanya berpikir prinsip timbal-balik, atau balas-membalas sampai dewasa (kita tahu banyak sekali orang dewasa yang tahapan moralnya hanya sampai pada tahap ini).
Lickona mnganjurkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mendorong anak berkembang pada tahap selanjutnya :
· Berikan pengertian akan pentingnya “karena cinta” dalam melakukan sesuatu, tidak semata-mata prinsip keadilan saja (timbal balik).
· Tekankan nilai-nilai agama yang menjunjung tinggi nilai cinat dan pengorbanan.
· Ajak mereka untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
· Bantu mereka untuk berbuat sesuai dengan harapan-harapan anda, tidak hanya karena ingin mendapatkan hadiah/pujian, atau menghindari hukuman.
· Ciptakan hubungan yang mesra agar mereka peduli terhadap keinginan dan harapan-harapan anda.
· Ingatkan bahwa mereka antar keluarga harus saling saying, dan perluas rasa sayang ini ke luar keluarga, yaitu ssayang terhadap sesama manusia.
· Berikan contoh perilaku anda dalam hal menolong dan peduli orang lain.
Erikson berpendapat bahwa masa usia ini (6 tahun sampai masa pubertas awal) anak pada tahap industry versus inferiority. Kalau pada tahapan sebelumnya anak akan merasa gembira dapat berinisiatif untuk memulai sesuatu, pada tahapan perkembangan selanjutnya adalah anak akan merasa puas kalau telah selesai mengerjakan sesuatu.
Erikson mengingatkan bahwa usia ini adalah usia yang paling genting, karena apaabila orangtua dan gura tidak dapat menanamkan sense of industry (rasa mampu untuk melakukan tugas), anak akan menjadi rrendah diri (inferior) yang akan terbawa sampai usia dewasa. Menurut Erickson guru sangat berperan dalam menumbuhkan sikap percaya diri ini: “Teachers should mildly but firmly coerce, children into yhe adventure of finding out that one can learn to accomplish things which one would never thought of by oneself” (Guru haarus secara halus tetapi mendorong kuat anak-anak untuk bereksplorasi agar mereka menyadari bahwa mereka dapat belajar menguasai sesuatu yang sebelumnya mereka tidak pernah berpikir akan bisa).
Fase 3 : Memenuhi harapan lingkungan (peer-oriented Mmmorality)
Kalau pada fase sebelumnya kebenaran ditentukan oleh pigur otoritas, pada tahap ini menurut Bronfenbenner ditentukan oleh lingkungan sebayanya (peer-group). Kohlberg menyebutnya dengan fase “anak baik” (good boy/ good girl stage). Anak-anak dalam fase ini ingin diterima oleh kawan-kawannya, sehingga tindakannya cenderung ingin disesuaikan dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan sebayanya. Pada masa ini anak sudah mengerti moral baik-dan buruk (golden rule), tetapi lebih didorang oleh keinginan ingin dikatakan anak baik oleh lingkungannya.
Thomas Lickona mengatakan masa ini bisa berlangsung pada usia 8 ½ sampai 14 tahun. Dan menurutnya, ciri khas perkembangan moral pada tahap ini :
· Ingin mendapatkan pernghargaan social dari orang lain ssehingga mau berbuat sesuatu agar orang lain berpikir bahwa “saya adalah orang baik”
· Sudah dapat mengerti konsep “golden rules”; “harus memperlakukan orang lain sseperti kamu mengharapkan orang lain memperlakukanmu”.
· Dapat mengerti apa yang dibutuhkan orang lain, tidak semata-mata berpikir “apa yang dapat saya peroleh”. Apabila mereka bisa menempatkan dirinya pada orang lain, mereka bisa melakukan kebaikan.
· Bisa menerima otoritaas orang tua dan berpikir “orang tua adalah bijak dan perlu mengikuti nasehatnya”.
· Bisa menerima tanggung jawab dan melakukannya untuk kepentingan keluarganya, karena mereka sudah mempunyai peerspefktif sebagai anggota sebuah kelompok.
· Karena orientasinya untuk mendapakan penerimaan dari kawannya, mereka cenderung merasa kurang percaya diri atau rasa tidak aman (terutama pada masa awal pubertas). Maka, pada masa ini mereka dapat terjerumus kepada hal-hal yang negatif untuk mendapatkan social approval (penerimaan) daari peer-group-nya.
· Sudah mulai mempunyai nurani (rasa bersalah dan malu), namun belum mantap, karena masih mudah terpengaruh oleh lilngkungan luarnya terutama yang menyangkut konsep diri yang ingin diterima oleh lingkungannya.
.
fase ini masih masuk dalam kaategori industry versus inferiority menurut Erickson. Namun sejak usia 12 tahun sampai usia 20 tahun, anak akan menempuh fase identity versus copnfusion (mencari identitas diri lawan kebingungan). Pada masa ini, apabila pada masa sebelumnya seorag anak sudah merasa mampu dan percaya diri, peeerkembangan selaanjutnya akan mudah baginya untuk mencari identitas diri. Konsep diri yang positif, atau bagaimana ia menilai dirinya, akan meningkatkan tingkat kepercayaan dirinya (self-esteem).
Kepercayaan diri yang rendah berhubungan erat dengan beberapa masalah remaja, misalnya depresi, kenakalan remaja, bunuh diri, dan anorexia nervosa (diet berlebihan yang berkaitan dengan tubuh yang diidealkan atau body image) (harter, 1990). Termasuk juga mudahnya dipengaruhi oleh teman sebaya (peer-group) untuk melakukan hal-hal yang negatif. Salah saatu cara untuk meningkatkan kepercayaan diri adalah dengan memberikan training pada bidang-biodang yang diminati, sehingga perasaan kemampuan dirinya. Selain itu dukungan emosional dari orang tua dan guru sangat diperlukan.
Lickona juga memberikan tips kepada orang tua atau pendidik untuk membantu anak-anak pada tahap ini agar dapat meninkatkan perkembangan moral ke tahap selanjutnya dengan:
· Memelihara hubungan yang baik dengan mereka dengan menjalin komunikasi, turut serta dalam memecahkan masalahnya, dan membantu mereka untuk menemukan identitas dirinya.
· Membantu membangun kosnsep diri yang positif;
o Dengan tidak membanding-bandingkan dengan kawannya
o Berikan penghargaan pada prilaku positif mereka lakukan
o Dorong mereka untuk mencari kawan-kawan yang baik
o Bantu mereka mengambangkan hobbi dan kemampuannya
o Bantu mereka mehinglangkan kebiasaan mengecilkan orang lain
· Mendiskusikan permasalahan moral
· Menyeimbangkan anatara memberi kebebasan terhadap meraka dan mengontrol tindakan mereka
o Gunakan otoritas anda berdasarkan cinta kasih
o Katakana “ya” atau “tidak” kalau memang diperlukan, namun berikan mereka juga peluang untuk memilih
o Berikan kesempatan mereka untuk menolak dengan cara yang baik
o Jangan berlebihan dalam menimbulkan rasa bersalah mereka ketika mereka berbuat salah. Hal ini dapat menimbulkan citra diri yang negatif.
o Gunakan kontro secara tidak langsung.
Penutup
Tampaknya untuk mencapai tahapan moral tertinggi seseorang harus berkembang hati nuraninya, yaitu yang mempunyai motto “saya harus setia kepada kebenaran universal”, bukan kebenaran menurut “saya pribadi”, atau menurut “pimpinan”, atau “kelompik”.
Hati nurani bisa tumbuih kalau sejak kaecil anak sudah dibiasakan untuk merasakan dan mencintai kebajikan. Emosi (karakter) atau otak kanan adalah ibarat otot, kalau tidak dibiasakan berfungsi maka akan manjadi lumpuh, tidak berfungsi. Oleh karena itu, metode pendidikan karakter yang melibatkan aspek feeling dan loving dapat membantu anak untuk mencapai tahapan moral tertinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar