
Ada beberapa hal yang membuat prestasi anak-anak kita lebih rendah dari kemampuannya yang sebenarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari. Kita mungkin sering mendengar komentar seperti ini, atau bahkan kita sendiri termasuk yang ikut mengomentari, “Kamu sebetulnya bisa kalau mau belajar sungguh-sngguh.”
Komentar ini terlontar karena nilai yang disapai anak –anak kita lebih rendah dari kemampuan yang sebenarnya. Atau dengan kata lain, sebenarnya nilai anak-anak kita bisa lebih tingg. Tapi kenapa, nilainya hanya biasa-biasa saja? Atau malah sering merah? Penyebabnya sering kompleks. Beberapa anak lebih sulit dibantu dibanding anak lainnya. Karena itu sebelum mencoba memberikan bantuan kepada anak-anak kita, hal pertama yang harus kita lakukan adalah, mencari penyebab, mengatasi potensi anak-anak kita, mengapa potensi anak-anak kita tidak tergali sepenuhnya.
Takut Gagal
Banyak anak yang tak mau berprestasi tinggi karena meraka merasa jauh lebih aman tidak mencoba sama sekali daripada gagal. Anak yang rentan terhadap gejala ini adalah anak yang merasa dirinya kurang dihargai, atau anak yang kakak/adiknya berprestasi lebih tingi dibanding dirinya. Atau anak yang sering mendapat tekanan dari orangtua supaya berprestasi tinggi. Karena itu, mereka lebih suka dicap malas daripada dikatakan bodoh atau tidak sepintar kakak/adiknya.
Tidak Dimotivasi
Beberapa anak bahkan tidak tahu harus ke mana dan apa gunanya sekolah. Mereka kehilangan motivasi atau tidak merasakan apa enaknya sekolah. Menjelaskan tentang karier atau jenis pekerjaan yang ada di masyarakat meungkin bisa membantu. Mereka tak perlu membuat keputusan yang tegas tentang nanti mau jadi apa. Mereka cukup disadarkan, bahwa pendidikan adalah untuk mencapai tujuan tertentu atau agar bisa bekerja di bidang tertentu.
Pergulatan Kekuasaan
Salah satu jalan efektif yang kembali digunakan orang tua adalah menghukumanak jika mendapat nilai jelek. Dalam hal ini, harus benar-benar dipisahkan antara masalah sekolah dengan konflik di keluarga. Bisa saja anakmendpat nilai jelak terus karena memang sedang ada konflik di keluarga. Jika ini msalahnya, jangan menghukum anak-anak kita sebaiknya kita berkonsultasi dengan ahli pendidikan atau psikolog.
Pengaruh Teman
Sulit untuk mengarahkan anak yang tidak bisa merasakan apa enaknya jika berprestasi bagus. Anak yang dikucilkan orangtua lebih suka mendengarkan anjuran dan nasihat teman-temannya dalam belajar ketimbang diperintah orangtuanya.
Tindakan yang paling efektif adalah mengajak anak untuk memikirkan tujuan yang akan dicapai di masa depan dan hanya memfokuskan perhatian pada mata pelajaran yang disukainya. Tanamkan dan kembangkan terus rasa percaya diri serta tonjolkan kemampuanya. Terkadang, mungkin anak terpaksa dipindahkan ke sekolah lain, untuk menghindarkan pengaruh buruk dari teman-temannya.
Hidup Senang
Murid yang segala sesuatu harus bersifat menghibur dan menyenangkan sering harus berjuang keras jika suatu perkerjaan/pelajaran tidak seberapa menarik disbanding harapannya. Tipe murid ini cenderaung memilih-milih pekerjaan. Perilaku seperti ini sulit diperbaiki jika orangtua selalu berusaha melindungi anaknya dari rasa kecewa lalu melimpahi anaknya dengan berbagai hadiah.
Tidak Bisa Mengatur Waktu
Sering anak juga tak bisa berprestasi baik jika tak bisa mengatur/membagi waktu. Perhatikan, apakah prestasi buruk ini benar karena anak-anak kita tak bisa membagi waktu. Terkadang, hal ini terkait dengan beberapa penyebab yang sudah disebutkan di atas. Tapi jika penyebabnya benar-benar karena anak tak bisa membagi waktu, prestasinya akan membaik jika anak sudah diajari cara membagi waktu yang baik. Misalnya dengan membuat jadwal belajar. Atau membuat catatan harian tentang tugas yang harus dikerjakan pada hari ini.
Masalah Emosional
Masalah emosional berkaitan dengan perubahan keadaan atau situasi di rumah tangga akibat meninggalnya anggota keluarga dekat, perceraian atau peristiwa buruk yang menimbulkan trauma. Atau anak menjadi putus asa karena menderita penyakit tertentu yang penyembuhannya memakan waktu lama. Masalah emosional seperti ini sebaiknya ditangani dengan hati-hati. Atau kalau ragu, kita bisa minta bantuan psikolog atau guru bimbingan dan penyuluhan di sekolah anak-anak kita. (Sumber : AURA No. 02/ TH.XIV)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar